Menjelang usianya yang ke-44 pada 28 Oktober 2026 mendatang, keberadaan Mapala Universitas Tanjungpura (UNTAN) terasa makin relevan.
Di tengah pesatnya tren outdoor adventure saat ini, hadir satu pertanyaan mendasar:mengapa organisasi seperti Mapala harus tetap ada? Jawabannya sederhana: alam tidak hanya butuh penjelajah, tapi juga penghormatan dan kesiapan
Etika dan Presisi di Pintu Rimba
Di dunia pencinta alam, ada etika tebal yang selalu dijunjung tinggi. Memasuki alam bebas bukan cuma soal menaklukkan puncaknya, tapi bagaimana kita menghargai tradisi lokal, menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, hingga menjaga sopan santun saat berada di desa pintu rimba
Setiap tindakan di dalam hutan dipikirkan dengan penuh perhitungan. Bahkan untuk sekadar menebang ranting kecil saat camping di malam hari, ada pertimbangan keselamatan dan dampaknya terhadap lingkungan. Semua ini dilakukan demi satu tujuan: meminimalkan risiko dalam setiap ekspedisi
Sayangnya, populernya kegiatan alam terbuka dewasa ini sering kali tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Kita berulang kali mendengar kabar duka: pendaki yang kehilangan nyawa akibat tak memperhitungkan cuaca ekstrem, kebakaran bukit akibat kecerobohan menyalakan api, hingga penjelajah yang hilang di rindangnya hutan.
Fenomena yang terjadi di Kalimantan Barat hingga deretan pegunungan di Pulau Jawa ini dominan menimpa mereka yang berangkat hanya bermodalkan nekat, tanpa bekal pengetahuan maupun peralatan yang memadai.
Menempa Diri, Mengabdi pada Bumi
Tentu saja, anggota Mapala bukan manusia super yang kebal musibah. Namun, di situlah letak perbedaan utamanya. Di Mapala Untan, para anggotanya dididik, dilatih, dan dibina secara terstruktur
Fisik dan mental ditempa, perencanaan ekspedisi didesain dengan presisi, dan cara berinteraksi (engage) dengan masyarakat lokal dipelajari sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap aktivitas lapangan.
Prinsip mendasar yang selalu ditanamkan sangat jelas: gagal dalam merencanakan, sama dengan merencanakan kegagalan.
Selama 44 tahun berkiprah, Mapala Untan tak sekadar menjadi wadah penyaluran hobi petualangan menantang. Lebih dari itu, organisasi ini telah menjadi kawah candradimuka dalam pengembangan sumber daya manusia, mencetak generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan berwasan luas. Lewat berbagai aksi nyata di bidang konservasi alam, Mapala Untan terus konsisten menjaga benteng keanekaragaman hayati Kalimantan Barat agar tetap lestari untuk masa depan.
Tidak harus menjadi anggota mapala untuk menjajal alam bebas. Namun, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan mental adalah bekal wajib yang harus dipunya sebelum melangkahkan kaki ke dalamnya.
Dirgahayu Mapala Untan.

















