“BERBAGI PENGETAHUAN BERSAMA TAMAN NASIONAL GUNUNG PALUNG”


Peserta, Pemateri dan Panitia Taman Nasional Gunung Palung

Pada Tanggal 22 s/d 24 April 2017 Taman Nasional Gunung Palung Melaksanakan kegiatan Pembinaan Kelompok Pencinta Alam se-Kabupaten Kayong Utara di Pantai Pasir Mayang Kecamatan Sukadana. Kegiatan bertujuan untuk saling berbagi pengetahuan alam bebas dan menumbuhkan kesadaran cinta alam sejak dini serta memperingati hari bumi yang setiap tahunnya diperingati pada Tanggal 22 April.
Dalam kegiatan ini ada beberapa materi disampaikan yaitu P3K, Pengamatan Burung, Navigasi Darat, Panjat Tebing, Wawasan Taman Nasional Gunung Palung ditambah dengan kegiatan penanaman 200 bibit pohon. Peserta berjumlah 60 orang dari berbagai organisasi dan kelompok pencinta alam,  yang didominasi oleh SISPALA dari 11 SMA dan partisipasi 1 KPA disekitaran daerah Kabupaten Kayong Utara. MAPALA UNTAN diberikan kesempatan untuk menyampaikan materi Navigasi Darat dan Panjat Tebing. Navigasi Darat oleh Jaka Anugrah dan Panjat Tebing disampaikan oleh Mario Ariesko serta pendamping Iskandar Agung. Pengetahuan Navigasi Darat ditekankan pada penggunaan peralatan dan teknik-teknik dalam penentuan posisi di lapangan serta dituntut dalam ketelitian dibidang paham ilmu tersebut, sedangkan Panjat Tebing secara umum disampaikan sebagai bentuk kegiatan alam bebas dengan memanjat dimedan vertikal lebih dari 45° memanfaatkan celah, tonjolan dan cacat batuan lainnya, ditambah dengan pengetahuan tentang peralatan serta penguasaan tali-temali yang diwajibkan.
Kegiatan penyampaian pengetahuan Navigasi Darat diikuti 12 orang peserta yang sangat antusias dalam mengikuti jalannya saling berbagi pengetahuan dan aktif bertanya sedangkan, Panjat Tebing peserta berjumlah 13 orang, yang didukung dengan suasana kebersamaan serta keaktifan peserta dalam berdiskusi. Setelah 1.30 Menit penyampaian 2 sesi materi di kelompok pengetahuan Navigasi Darat dan  Panjat Tebing selesai dihari pertama kegiatan. Kegiatan simulasi dihari kedua 23 April 2017 difokuskan pada penggunaan Kompas, Peta dan Protaktor serta penentuan posisi dalam Navigasi Darat, dilaksanakan oleh 12 orang peserta yang kondisinya sama dengan kegiatan penyampaian pengetahuan dihari pertama, sangat antusias dan jalannya simulasi berjalan dengan baik. Simulasi pemanjatan Tope Rope dan Rappelling diikuti oleh peserta yang pada saat penyampaian materi disepakati bahwa, akan dilaksanakan simulasi tersebut. Dalam percobaan praktek lapangan, 13 orang peserta berhasil melakukan pemanjatan Tope Rope dan Rappelling tanpa kendala apapun, sesuai dengan yang disampaikan sebelumnya mengenai pengetahuan panjat tebing bahwa selain pengetahuan dan pengalaman, tidak lupa kerjasama adalah hal mutlak.
Kegiatan 24 April 2017 ditutup dengan upacara yang sebelumnya dilakukan penanaman 200 bibit pohon, dihadiri oleh perwakilan beberapa instansi pemerintah maupun non-pemerintahan serta, hadir pula atlet tinju kebanggaan Kalimantan Barat Daud Yordan yang ikut berpartisipasi dalam penanaman bibit tersebut. Tidak lupa pesan dari Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung pada saat upacara berlangsung, bahwa kepedulian terhadap alam serta kelestariannya merupakan tanggungjawab bersama, jika kita sebagai generasi penerus yang sadar dan mempunyai kepedulian terhadap alam.
Dari kegiatan ini MAPALA UNTAN mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak Taman Nasional Gunung Palung atas kesempatan yang telah diberikan, dan semoga dikemudian hari dapat terus dilakukannya kegiatan yang bermanfaat serta kerjasama berkesinambungan.

Kearifan Lokal Masyarakat Dayak Ketungau Merakai dalam Pengelolaan Hutan

"diskusi tentang Hukum Adat Suku Ketungau Merakai"
Di pulau Kalimantan kondisi hutan alami saat ini sedang dalam krisis. Tumbuhan dan binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Banyak manusia dan kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam. Kalimantan barat merupakan salah satu provinsi yang kaya akan sumber daya alam, budaya dan etnik yang menjadi warna didalamnya. Salah satunya, Desa Wana Bhakti yang terletak di Kecamatan Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Hutan di desa ini terjaga dan masih alami. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani, mereka mampu untuk menjaga hutan dengan cara yang masih tradisional dan tetap menjalankan adat dan budaya yang ada sejak jaman dahulu. Suku asli desa merupakan Suku Dayak Ketungau Merakai.
MAPALA UNTAN, merupakan unit kegiatan mahasiswa Universitas Tanjungpura yang bergerak dibidang pelestarian lingkungan hidup dan petualangan serta menjunjung tinggi Kode Etik Pencinta Alam dan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam setiap kegiatannya. Untuk menjadi anggota MAPALA UNTAN salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah melakukan kegiatan yang disebut dengan istilah  Ekspedisi Wajib.

Pemandangan dari atas puncak gunung Tutoop

Pada tanggal 6 Januari 2017, di desa Wana Bhakti Tim IUS MOS Anggota Muda MAPALA UNTAN angkatan XXXII melakukan Ekspedisi Wajib. Desa ini merupakan salah satu desa yang masih memperhatikan dan mempertahankan Adat istiadat. Dalam memanfaatkan hasil hutan dan mengelola hutan untuk dijadikan areal perladangan tidak sembarangan sehingga diberlakukan hukum adat dalam pengelolaan hutan. Hal ini merupakan salah satu cara masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.
Menurut Tarup, seorang warga Wana bhakti, "hutan mempunyai fungsi untuk bahan bangunan, kerajinan tangan seperti alat tangkap ikan dan songgang”, pungkasnya. Bagi masyarakat yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan dalam pengelolaan hutan dikenakan sanksi berupa membayar denda sebesar kerusakan yang ditimbulkan.
Tim IUS MOS melakukan pendakian gunung tutoop 1206 mdpl, bukan hanya sekedar mendaki tetapi melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi hutan yang ada disekitar desa. Kondisi hutan yang masih baik dan masih alami ini dihuni oleh tumbuhan dan hewan. Untuk mengetahui bagaimana cara masyarakat menjaga kelestarian hutan. Kemudian Melakukan penelitian terhadap hukum adat tentang pengelolaan hutan,  yang mana masyarakat setempat hingga saat ini masih mempertahankan adat dan tradisi dalam pengelolaan hutan. Dalam proses penelitian, tim IUS MOS mewawancarai tokoh masyarakat untuk mengumpulkan informasi. Selain penelitian, tim IUS MOS juga melakukan sosialisasi dan mengajak anak-anak sekolah dasar di desa Wana Bhakti untuk lebih dalam menanamkan rasa cinta terhadap NKRI dan kelestarian alam sekitar.
oleh: Achmad Edi Saputra

Wanita Kalimantan Barat ukir prestasi di dunia pendakian gunung

Henny di tujuh puncak (Seven Summits)
Henny Widiastuty wanita asal Kalimantan Barat dan juga merupakan anggota MAPALA UNTAN ini berhasil menyelesaikan tujuh puncak tertinggi di Indonesia atau yang lebih dikenal dengan istilah seven summits. Wanita asal Pontianak ini memang hobi dalam berkegiatan di alam bebas. Pada saat menempuh pendidikan di bangku perkuliahan ia bergabung bersama Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Tanjungpura (MAPALA UNTAN) yang merupakan organisasi didalamnya bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup dan penyaluran hobi. Bermula dari mendaki gunung-gunung yang ada di Kalimantan Barat selama berada di MAPALA UNTAN sampai mendaki 7 puncak tertinggi yang tersebar di Indonesia. Merupakan sebuah prestasi yang baik dan layak untuk  diberikan apresiasi kepada wanita asal Kalimantan Barat ini.
Henny Widiastuty ini adalah wanita yang pertama dari pulau Kalimantan dan juga satu-satunya anggota MAPALA UNTAN yang berhasil menyelesaikan 7 puncak tertinggi tersebut. Tentu saja untuk mencapai 7 puncak tertinggi yang berada di Indonesia ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan apalagi dengan Gender yang bisa dibilang tidak biasa yaitu seorang wanita. Kegigihan dan mental yang kuat Henny Widiastuty ini patut di acungi jempol dan menjadi penyemangat bagi anak-anak muda Kalimantan Barat.
Mengawali kiprah di dunia pendakian sejak berada di MAPALA UNTAN tentu banyak hal yang telah di dapat baik dari segi manajemen,materi maupun fisik sebagai seorang pendaki gunung. Bukit Raya 2.278 Mdpl merupakan gunung pertama yang di daki oleh Henny Widiastuty pada tahun 1999 menuju 7 puncak tertinggi di Indonesia. Bukit Raya terletak di perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Bukit Raya ini merupakan gunung idola bagi para pendaki gunung karena Bukit Raya ini mempunyai hutan yang masih sangat lebat  dan kearifan lokalnya masih sangat terjaga dengan baik.
Selang satu tahun mendaki Bukit Raya kali ini Gunung Rinjani 3.726 Mdpl pada tahun 2000 menjadi puncak kedua yang di daki oleh mbak Henny, Gunung Rinjani terletak di Nusa Tenggara Barat. Setelah mendaki Gunung Rinjani Mbak Henny sapaan akrabnya ini absen selama 10 tahun,kemudian pada tahun 2011 mbak Henny kembali melanjutkan pendakiannya. Kali ini pendakiannya dilanjutkan ke Pulau Jawa yaitu Gunung Semeru, walaupun gunung di pulau jawa ini terhitung banyak dengan ketinggian 3000 namun gunung Semerulah yang  merupakan Gunung tertinggi di Pulau jawa ini. Gunung semeru mempunyai ketinggian 3.676 Mdpl. 
Pada tahun 2012 mbak Henny menyebrang ke Pulau Sumatra, di Sumatra Gunung yang menjadi tujuan mbak Henny ini adalah Gunung Kerinci dengan ketinggian 3.805 Mdpl. Setelah absen selama sepuluh tahun mendaki gunung kali ini Mbak Henny fokus untuk menyelesaikan 7 puncak tertingginya. Masing- masing dalam selang waktu satu tahun pendakian ke puncak tertinggi dilakoninya yaitu Latimojong 3.430 Mdpl pada tahun 2013 yang terletak di Pulau Sulawesi dan gunung Binaiya 3.027 Mdpl di Pulau Maluku pada tahun 2014. Enam puncak tertinggi di Indonesia berhasil di daki oleh mbak Henny dan sekaligus mencatatkan namanya sebagai wanita pertama asal Kalimantan Barat. Tidak puas dengan enam puncak tersebut Mbak Henny kembali melakoni hobinya mendaki gunung pada tahun 2017. 
Kali ini gunung Carstensz Pyramid 4.884 Mdpl menjadi Gunung terakhir yang didaki oleh Mbak Henny, Carstensz Pyramid adalah gunung tertinggi di tanah  Papua dan merupakan gunung yang satu-satunya di daerah tropis yang memiliki Salju. Carstensz Pyramid juga merupakan gunung favorit para pendaki karena pada saat melakukan pendakian, pendaki akan di suguhkan dengan medan yang bervariasi dan pemandangan yang indah selama perjalanan. Carstensz Pyramid juga merupakan salah satu puncak tertinggi di dunia atau yang biasanya di kenal dengan Seven Summits dunia.
Dan lengkaplah sudah tujuh puncak tertinggi di Indonesia yang di daki oleh wanita asal Kalimantan Barat serta menjadikan MAPALA UNTAN  sebagai organisasi mahasiswa pencinta alam pertama dari pulau Kalimantan yang mengibarkan bendera dan menginjakkan kaki di puncak tertinggi Indonesia. Semoga dengan prestasi yang di buat oleh Mbak Henny ini anak-anak muda Kalimantan Barat menjadi terpacu untuk berkiprah dalam mendaki gunung dan tetap menjaga budaya,alam serta lingkungan.
Dalam berkegiatan di alam bebas, jangan pernah lupa untuk menjunjung tinggi Kode Etik Pencinta Alam dan motto/petuah/sikap/etika kita sebagai pencinta alam“ jangan bunuh sesuatu kecuali waktu, jangan ambil sesuatu kecuali gambar dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak “. 
(MPA-U.1410309/CB)

Mengenal Puncak Jaya Carstensz Pyramid dan Histori Pendakiannya

Carstensz Pyramid
Dalam dunia petualangan, khususnya pendakian gunung, Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi kiblat para pendaki baik nasional maupun internasional dikarenakan Indonesia dikaruniai anugerah oleh Tuhan YME sebuah gunung yang masuk dalam kategori gunung tertinggi di dunia mewakili Benua Australia.
Iya, Puncak Jaya namanya. Puncak Jaya atau puncak Jaya Wijaya atau yang lebih familiar dinamai sebagai Carstensz Pyramid adalah sebuah gunung yang tertinggi di pegunungan Sudirman. Gunung ini terdapat Indonesia bagian paling timur, yaitu di Papua.
Puncak Jaya mempunyai ketinggian 4.884 mdpl atau setara dengan 16.023 kaki, sehingga menjadikan tempat tersebut satu-satunya tempat di iklim tropis yang diselimuti oleh es atau salju. Puncak ini merupakan gunung yang tertinggi di Indonesia di wilayah kawasan Oceania atau Benua Australia dan kalangan pendaki di dunia memasukkan Puncak Jaya dalam “The World Seven Summits” atau tujuh gunung tertinggi dunia. bersama bersama Mount Everest (Asia), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Mckinley (Amerika Utara), dan Vinson Massif (Antartika).
Sejarah nama “carstensz” bermula dari seorang Belanda yaitu Jan Carstenszoon pada tahun 1623. Ia yang pertama kali melihat keajaiban di bumi Papua tersebut dan kemudian menamainya Carstensz. Puncak Jaya ini beberapa kali berganti nama mulai dari Puncak Soekarno, Puncak Jaya, Nemangkawi, Puncak Jayadikesuma dan Ndugundugu. Namun, Carstensz Pyramid menjadi julukan yang paling popular saat ini.
Ada tiga  puncak tertinggi di gunung Jaya Wijaya yakni Puncak Jaya (4884 mdpl), Puncak Mandala (4760 mdpl), dan Puncak Trikora (4751 mdpl). Puncak Jaya berhasil didaki pada awal tahun 1909 oleh seorang penjelajah Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz dengan enam orang suku Kenyah yang direkrut dari Apau Kayan di Kalimantan Utara.
Pada tahun 1936, ekspedisi Carstensz yang diprakarsai Belanda, tidak mampu menetapkan dengan pasti yang mana dari ke tiga puncak adalah yang tertinggi, kemudian mereka memutuskan untuk berusaha mendaki masing-masing puncak. Anton Colijn, Jean Jacques Dozy, dan Frits Julius Wissel mencapai padang gletser Carstensz Timur dan Puncak Ngga Pulu pada 5 Desember tahun itu.
Sejak tahun 1936, hingga 26 tahun kemudian, tepatnya tahun 1962 baru ada pendakian Puncak Jaya kembali yang dilakukan oleh sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh pendaki dari Austria, Heinrich Harrer, dengan tiga anggota ekspedisi lainnya, Robert Philip Temple (Selandia Baru), Russell Kippax dan Albertus Huizenga.
Semakin berkembangnya hobi pendakian gunung dan boomingnya istilah The Seven Summits, semakin banyak pula pendaki yang menjajal Puncak Jaya baik secara pribadi, kelompok maupun organisasi seperti KPA dan Mapala.
Mapala untan yang berdiri sejak 1982 atau 35 tahun yang lalu juga berkesempatan membuat sejarah mengibarkan bendera merah putih, bendera Universitas Tanjungpura dan bendera kebanggaan Mapala Untan di puncak tertinggi Indonesia pada tahun ini, 2017. Anggota yang ditugaskan oleh Mapala Untan dalam kegiatan “Ekspedisi Tanjungpura- Carstensz Pyramid” ini yaitu Parman dan Dian Nurbaiti, ikut serta  Henny Widiastuti dan Irman Kostaman, Anggota Luar Biasa Mapala Untan.
Parman dan Dian Nurbaiti berhasil mencapai puncak idaman pada tanggal 14 januari pukul 10.05 waktu Indonesia timur (WIT) bersama pendamping dan rekan pendakian lainnya. Pendakian Carstensz Pyramid ini tergolong mahal dan sangat sulit, sehingga tim ETCP menjalani proses persiapan yang sangat panjang baik dari segi dana, mental maupun fisik.
Syal MAPALA UNTAN
Sebuah sejarah baru di bumi Khatulistiwa, Mapala Untan dengan segala keterbatasan bisa mengibarkan bendera kebanggaan di Carstensz Pyramid sekaligus mencatatkan organisasi mapala pertama di Kalimantan sekaligus Henny Widiastuti sebagai “The Indonesian Seven Summits Women” dan mencatatkan Parman dan Dian Nurbaiti sebagai mahasiswa Universitas Tanjungpura pertama yang menggapai Puncak Jaya-Carstensz Pyramid.

Salam Tanjungpura.

Sumber:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Puncak_Jaya
http://infopendaki.com/puncak-jaya-wijaya-carstensz-pyramid/
http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/01/gunung-termahal-dunia-di-carstensz-pyramid-papua